Manajemen Pernikahan

Karya : Miryatie Altaf

Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan oleh telepon dari seorang teman wanita. Lebih terkejut lagi karena tanpa basa basi dia langsung bertanya apa sebab dulu saya berpisah dengan mantan suami saya. Mendengar pertanyan itu, saya lantas balik bertanya, apakah dia juga ada rencana pisah. Dia bilang bukan, justru dia ingin menikah

Teman ini dalam pandangan saya, termasuk salah satu yang menjalani hidup dengan “serius”. Saya kenal dia cukup lama, hampir 9 tahun. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menduduki posisi strategis di sebuah perusahaan painting besar. Kemudian dia melanjutkan S2-nya di Australia dan India atas beasiswa dari perusahaan rokok terkemuka. Wajahnya pernah terpampang di surat kabar sepulang dia dari sekolah tersebut. Dan saat ini, dia bekerja di perusahaan multinasional besar.

Kami berbincang hampir satu jam. Dia sempat menyatakan kebimbangannya tentang pernikahan dengan menanyakan apa resiko yang dia tanggung jika dia menikah. Sebagai seorang intelektual yang selalu punya perhitungan di atas kertas, diapun memperlakukan sebuah pernikahan sebagai suatu organisasi yang memiliki resiko dan ancaman tertentu. Dan dia yakin, dengan pengalaman perceraian saya, dia akan bisa memperoleh support data buat menjawab hal itu dan menetapkan strategi untuk meminimalisasi resiko-resiko tersebut.

Saya tersenyum dengan pernyataan-pernyataan yang dia ungkapkan. Adakah orang lain yang juga memiliki pandangan seperti itu…? Kami memang sama-sama belajar manajemen strategi, juga belajar manajemen resiko. Organisasi punya strategi, pun punya resiko. Pernikahan juga demikian adanya. Saya sangat paham dengan cara berpikir teman saya ini. Tapi tentunya, menikah tidak melulu soal angka..:)

Orang membentuk sebuah organisasi ada tujuan yang umum disebut dengan visi dan misi. Ada analisa — sebutlah yang paling dasar saja–, SWOT, Strenght Weakness Opportunity dan Threat. Dalam jangka waktu tertentu, diharapkan modal yang digunakan untuk membangun organisasi itu akan kembali, atau disebut dengan titik BEP, Break Even Point. Lamanya pencapaian BEP sangat ditentukan oleh effort dan strategy yang dilakukan pada masa awal pasca kelahiran organisasi. Dan tentu saja faktor P ke-5 yaitu “people” sebagai pemikir dan penggerak di dalamnya memiliki peranan besar yang mengarahkan organisasi tersebut meraih visi-nya.

Resiko yang dihadapi mencakup resiko internal dan eksternal. Resiko eksternal sifatnya luas dan lebih intangible, misalnya goverment policy seperti harga BBM, aktifitas pesaing, market size dan lain sebagainya. Faktor eksternal hampir selalu bisa dipelajari melalui historical data dengan me-review kejadian-kejadian yang pernah terjadi dua hingga tiga tahun ke belakang. Sedangkan faktor internal, ada di dalam organisasi itu sendiri. Mulai dari kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, infrastruktur yang dimiliki, perhitungan cost, analisa profit and loss, distribusi, pemasaran hingga people management. Namun, ada resiko laten yang juga harus diperhatikan, yaitu faktor human. Sistem bisa diciptakan dengan sempurna, zero defect. Tapi penggerak dari sistem itu tetap saja manusia yang memiliki paham dan pemikiran sendiri-sendiri.

Visi dan misi akan bisa tercapai, jika dipahami dengan persepsi yang sama oleh setiap penggerak, mulai dari top manajemen hingga office boy sekalipun. Sebagian golongan saja yang menyerap visi dan misi dengan persepsi yang berbeda, bisa berdampak kepada perbedaan pendapat, penyimpangan hingga perselisihan yang bisa memutuskan rangkaian proses kerja yang sudah ditetapkan. Lebih buruk lagi, perbedaan-perbedaan ini bisa mengarah kepada ketidakseimbangan dan siapa yang tidak bisa bertahan dengan perbedaan tersebut pada akhirnya lebih memilih hengkang.

Bagaimana dengan pernikahan. Sama dengan organisasi, menikah pun harus punya visi dan misi. Harus punya target dan strategi. Juga ada resikonya. Resiko yang paling vital adalah terjadinya perceraian. Jika sudah sampai pada titik ini, artinya pondasi dan tiang dalam rumah tangga sudah tidak menyatu lagi, sehingga runtuhlah bangunan itu. Setiap orang yang akan menikah pasti punya tujuan idealis sendiri. Lucunya, saat saya tanya teman saya apa tujuan dia menikah, justru dia menjawab ‘tidak ada. Aku hanya harus menikah.’ Hhumm.., ternyata, seorang rasionalis-pun kadang kehilangan ‘rasa’ ketika harus menetapkan tujuan..:) Ups…

Saya kutip sedikit ucapan dia “There’s no excitement about it. I just find him kind, serious dan ready to married. Makanya aku perlu tahu, resiko apa saja yang akan terjadi dan harus aku tanggung. Coz I know this is a very big deal. Why even a person like you can’t survive your marriage…”

Bahkan jika sepuluh orang gagal berumah tangga di interogasi sekalipun, tidak akan bisa menjawab pertanyaan, “berapa rasio kegagalan dalam rencana pernikahan saya”. ROI (Return on Investment)-nya bukanlah 30 persen kenaikan penghasilan atau cut-off 20 persen pengeluaran pribadi… Terlalu mudah jika demikian.

Barangkali pelajaran yang bisa dikutip dari manajemen organisasi di atas yaitu persamaan persepsi tentang organisasi, visi dan misinya. Ketika dua orang manusia ingin melebur dalam satu lembaga perkawinan, seyogya-nya mereka berdua memiliki paham yang sama tentang konsep pernikahan dan eksistensi serta peran dari masing-masing fungsi: istri dan suami, ibu dan ayah. Dengan memahami bahwa pernikahan adalah ajang untuk saling melengkapi, menutupi kekurangan masing-masing dan mengisi atas dasar landasan yang sama dan diimbangi dengan tujuan ibadah pelengkap dien, bisa jadi pernikahan malah jauh lebih sederhana ketimbang suatu organisasi.

Kalau sudah begitu, maka resiko bukanlah menjadi resiko pribadi atau perorangan. Resiko menjadi milik bersama. Hidup toh bukan hanya “aku dan kamu” saja, ada orang lain, ada lingkungan, ada faktor eksternal, ada masa lalu. Namun, kesolid-an hubungan kedua insan dalam internal pernikahan dengan masing-masing menyadari langkah tak selamanya mulus dan aral kadang melintang, berdua malah justru menjadikan semua itu ringan, seuntai goresan warna dan hanyalah bagian dari proses pembelajaran ke arah yang lebih baik. Badai pasti berlalu, siang pasti berakhir dan roda pasti berputar. Hiduplah untuk hari ini, dan hiduplah untuk hari esok.

Jalan menuju pernikahan yang paling baik justru adalah jauh dari tipuan perasaan yang bisa membutakan. Perlukah excitement? Perlu, tapi excitement horizontal, excitement untuk menyempurnakan separuh dien. Bukan excitement duniawi. Jika menempuh jalan ini, insya Allah excitement duniawi dengan sendirinya akan timbul pasca pernikahan berupa hidayah dari Allah.

Kapan titik BEP pernikahan? Menjawab pertanyaan ini, ada sebuah cerita lucu. Waktu itu teman yang lain akan melangsungkan pernikahan dengan hanya mengundang orang-orang “tertentu” saja, yang menurutnya akan memberikan angpow cukup besar yang akan menutup biaya pernikahan. Namun yang terjadi justru undangan yang datang malah jauh lebih sedikit dari yang diharapkan. Barangkali karena pesta pernikahan dilaksanakan di tengah long weekend. Jadi, tujuan untuk mendapatkan “return” dari angpow para undangan, jelas tidak tercapai… Yang pasti BEP pernikahan bukanlah dalam hitungan (angpow) rupiah, atau rasio income dibagi expense = nol. BEP itu hanya bisa dirasakan di hati. Adalah ketika kehidupan pernikahan menjadi al-baiti jannati, “aku tak bisa hidup tanpa kamu”, dan lebih bahagia dengan status menikah dari pada waktu status masih lajang. Kapankah itu…? Bisa 2 tahun, 1 tahun, 1 bulan, bahkan 1 minggu. Tergantung ikhtiar dan kedewasaan masing-masing individu.

Bagaimana bisa tahu apakah visi dan misi sudah tercapai? Jika visi dan misi sesuai dengan syariat, tercapai atau tidaknya merupakan proses panjang. Penikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah, akan abadi hingga di fase kehidupan berikutnya. Tapi paling tidak, perasaan aman dan tentram di dunia ini saja, serta anak-anak yang sholeh yang selau mendoakan, sudah bisa menjawab pertanyaan di awal alinea ini.

Kesimpulannya, setiap orang punya jalan hidup sendiri-sendiri. Pengalaman pernikahan dan perceraian seseorang merupakan pelajaran hidup yang bisa dipetik hikmahnya, tapi tidak bisa dijadikan patokan dan bench-mark untuk pernikahan orang lain. Apalagi menjadikan traumatis bagi yang berencana menikah. Tapi saya percaya, setiap jalan hidup syar’i yang ditempuh merupakan langkah ke arah ma’rifatullah. Dan menikah adalah salah satunya. Menikahlah karena Allah, menikahlah untuk menjemput ridho Allah, menikahlah karena sunatullah. Kalau ini menjadi landasan, pun ketika takdir mengatakan harus berpisah, dengan enteng kita bisa bilang, “sudah jalan-Nya begitu, cukuplah Allah bagiku…”

Sore yang hujan, 14 Jun. 08

Miryatie Altaf (miryatie@gmail.com)

About kua pagedangan

Kantor Urusan Agama, KUA, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten - Indonesia melayani Pernikahan, Wakaf, Zakat, Haji, Sertifikat Halal.

Posted on 27/05/2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: